This NASA animation shows how SWOT will collect data over ocean and freshwater areas.
ASEAN Hydroinformatics Data Centre (AHC)Global Precipitation Measurement
Data hujan satelit dapat digunakan untuk menghitung debit rencana bangunan Sumber Daya Air (SDA). Penggunaan data satelit seperti CHIRPS, TRMM, atau GPM (Global Precipitation Measurement) kini lazim dipakai sebagai alternatif, terutama untuk wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang minim atau tidak memiliki stasiun pengukur hujan terukur (ungauged catchment). [1, 2, 3, 4, 5]
Meskipun demikian, data satelit tidak bisa langsung digunakan begitu saja. Karena data satelit mengukur estimasi tutupan awan dan kelembapan secara spasial, sering kali terjadi bias atau deviasi (perbedaan nilai) jika dibandingkan dengan kondisi riil di permukaan tanah. [6, 7]
Berikut adalah tahapan penting dan syarat agar data hujan satelit valid untuk menghitung debit rencana bangunan SDA:
1. Proses Koreksi Bias (Bias Correction)
Sebelum masuk ke analisis frekuensi, data satelit wajib dikalibrasi dan dikoreksi menggunakan data stasiun hujan manual/lapangan terdekat. Beberapa metode koreksi yang biasa digunakan meliputi: [6, 8]
- Linear Scaling
- Power Transformation
- Quantile Mapping
2. Analisis Hujan Rencana (Statistik)
Setelah data satelit dikoreksi dan memiliki korelasi yang baik dengan data lapangan, seri data curah hujan harian maksimum tahunan dianalisis secara statistik. Tahapan ini mengacu pada standar nasional seperti SNI 2415:2016 (Tata Cara Perhitungan Debit Banjir Rencana) untuk menentukan kecocokan distribusi frekuensi (misalnya Gumbel, Log Pearson III, atau Normal). [5, 6, 8, 9]
3. Transformasi Hujan Menjadi Debit
Curah hujan rencana hasil olahan satelit tersebut kemudian dikonversi menjadi debit banjir rencana menggunakan model hidrologi. Anda bisa menggunakan: [6]
- Metode Empiris (Rasional): Untuk DAS berukuran kecil.
- Metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS): Seperti metode HSS Nakayasu, Gamma I, atau SCS-CN yang disimulasikan lewat software (misalnya HEC-HMS). [6]
Kelebihan &
Kekurangan Data Satelit untuk Bangunan SDA
|
Aspek |
Kelebihan |
Kekurangan |
|
Ketersediaan Data |
Menyediakan data kontinuitas panjang (sering kali >20 tahun) tanpa ada hari yang kosong (missing data). |
Perlu keahlian khusus untuk mengunduh dan mengekstrak data format grid (NetCDF atau Raster). |
|
Cakupan Spasial |
Sangat baik untuk area terpencil, pegunungan, atau DAS yang tidak memiliki pos hidrologi sama sekali. |
Resolusi spasial terkadang terlalu kasar untuk wilayah DAS yang sangat kecil. |
|
Akurasi |
Mampu menangkap pola distribusi hujan secara regional dengan baik. |
Cenderung meremehkan (underestimate) hujan ekstrem atau melebih-lebihkan (overestimate) hujan ringan sebelum dikoreksi. |
[1]
https://ejournal.undip.ac.id
[2]
https://jtresda.ub.ac.id
[3]
https://ejournal.utp.ac.id
[4]
https://jtresda.ub.ac.id
[5]
https://dspace.uii.ac.id
[6]
https://id.scribd.com
[7]
https://journal.itny.ac.id
[8]
https://snip.eng.unila.ac.id
[9]
https://ejournal.utp.ac.id









